Monday, 9 December 2019

Burn out Mom

On fire boleh, burn out jangan 🌟πŸ”₯


Mak, pernahkah kita merasa begitu lelah saat terjaga di pagi hari?
.
Merasa tak sanggup bahkan hanya untuk memikirkan apa lagi yang harus dikerjakan hari ini.
.
Menjadi begitu mudah marah karena kesalahan kecil yang dilakukan bocah tak berdosa.
.
Merasa sudah melakukan semuanya tapi tak pernah cukup baik, tak ada yang menghargai.
.
Kalau pernah, itulah saat kita diserang burn out.
.
Burn out awalnya adalah istilah psikologi organisasi untuk pekerja yang mengalami kelelahan fisik, emosional, dan mental karena tuntutan pekerjaan yang terlalu tinggi namun minim apresiasi.
.
Melihat definisinya, ternyata burn out tak hanya bisa dialami para pekerja. Namun juga para ibu baik yang berada di rumah maupun bekerja di luar rumah.
.
Banyak ibu yang kelelahan lahir batin karena status sebagai ibu tidak mengenal jam istirahat, cuti, apalagi resignπŸ˜… Tidak pula mengenal gajian, bonus tahunan, apalagi THRπŸ˜‹ (tapi insya Allah balasannya surga 😍aamiin).
.

Sejak bangun tidur hingga tidur lagi, ibu melakukan berbagai pekerjaan yang tak ada habisnya.
.
Ketika pekerjaan itu tak mendapatkan apresiasi, tak ada yang menghargai, berulang terus disertai tuntutan yang semakin tinggi, sang ibu pun mengalami burn out.
.

Di era digital ini, burn out bisa dipicu juga oleh berbagai postingan sesama emak di timeline. Melihat anak orang lebih montok, lebih pintar, lebih manis perilakunya, membuat sebagian emak merasa dirinya tidak cukup baik.
.
Apalagi kalau melihat sesama emak lebih berprestasi, suaminya lebih romantis, hidup orang lain seolah sempurna.
.
Emak pun mulai membanding-bandingkan diri. Makin lelah lahir batin rasanya.
.
Sesekali merasa lelah, sedih, tertekan, adalah hal yang wajar.
.
Menjadi tidak wajar ketika perasaan itu terus menerus ada sehingga membuat kualitas hidup menurun. Emak terjebak dalam lelah berkepanjangan tanpa bisa bergerak untuk membuat perubahan.
.
Berikut ini beberapa tips mengatasi Burn Out:

πŸ–️ jeda sesaat dari rutinitas. Cukupi kebutuhan raga dan jiwa untuk beristirahat sejenak.
πŸ–️ Heningkan diri sesaat dalam sugesti, zikir,  maupun doa
πŸ–️ keluar rumah ikut kegiatan positif, pergi ke tempat favorit
πŸ–️lakukan hobi dan temukan mood booster kecil kecilan setiap hari, sesederhana menghirup udara subuh atau minum teh manis hangat.
πŸ–️ delegasikan tugas atau berbagi peran
πŸ–️bertemu teman atau berbincang dengan sosok yang positif
.

Menjadi ibu memang tidak mudah, sebab balasannya adalah surga. Sesekali merasa sedih, kecewa, marah, dan lelah karena menganggap diri belum bisa menjalankan peran ibu dengan baik, adalah hal yang wajar.
.
Segeralah bergerak dan beri nutrisi jiwa agar semua perasaan negatif tak berlarut-larut menyedot semua energi positif dalam diri ibu. Berlarilah kepada Tuhan yang selalu ada untuk menjaga hambaNya sepanjang waktu.
.
Wallahua'lambishshawab.
.
Yunda Fitrian

Monday, 14 October 2019

Trauma Healing



Trauma Healing

"Aduh, aku trauma deh belanja di XYZ antrenya puanjaaang banget!"

"Anakku trauma main sama Si JKL, soalnya dia tuh pernah mukul anakku!"

Kata trauma sering kita sertakan dalam percakapan sehari-hari. Tapi, apakah kita sudah memahami apa sih trauma itu sebenarnya?


Tulisan singkat ini adalah sedikit rangkuman (karena aslinya banyak banget yang perlu dirangkum :D)  dari dua hari workshop trauma healing yang saya ikuti beberapa bulan lalu.



Apa itu trauma?


Trauma adalah respon emosi saat peristiwa negatif berlebihan.


Peristiwa negatif berlebihan adalah kondisi yang membuat tubuh, pikiran, perasaan, tidak nyaman hingga menimbulkan perasaan tidak berdaya. Semua ini sifatnya subyektif, tergantung persepsi orang yang mengalami.


Tanda dan gejala trauma adalah sebagai berikut:


-terlalu banyak perasaan atau justru sedikit, tak berperasaan
-putus asa, merasa tak tertolong
-tak berharga
-malu, takut
-marah, dendam
-duka, sedih
-cemas, serangan panik



Kemampuan bina hubungan:
-sukar percaya
-sukar menjalani hubungan
-mengalami masalah seksual
-takut terhadap orang lain
-terkucil dan menarik diri
-tak menyadari berada dalam situasi bahaya
-tak tahu bagaimana memberi dan menerima dalam hubungan
-berulangkali mencari seseorang untuk melindunginya


Tubuh:
-ingatan tubuh dan kembali mengalami atau menginderai
-sukar tidur termasuk mimpi buruk
-Keluhan fisik seperti sakit kepala, muntah, nyeri lambung, nyeri otot, keluhan pencernaan
-kelelahan fisik


Pikiran:
-perhatian berlebihan pada situasi tertentu
-sulit konsentrasi
-bingung
-hilang ingatan


Perilaku:
-mencelakai diri sendiri
-terlibat dalam perilaku adiksi
-mencari hubungan seksual atau menghindarinya
-memanfaatkan dan melecehkan bahkan melakukan kekerasan terhadap orang lain


Banyak trauma berasal dari 5 tahun pertama kehidupan. Sebab saat itu manusia berada dalam fase kanak-kanak yang masih sangat terbatas kemampuannya dalam mengelola pikiran, perasaan, dan gerakan.


Jika memori traumatik terus membayangi hingga mengganggu kehidupan sosial setidaknya selama 2 bulan berturut-turut, membuat kita berniat mengakhiri hidup atau menyakiti orang lain, maka kita perlu mencari bantuan profesional untuk mengatasinya.


Dampak Trauma


Pak Asep Haerul Gani, narasumber workshop yang saya ikuti, dengan berkelakar mengatakan bahwa semua orang di ruangan ini korban trauma dan kita masih hidup sampai hari ini, baik-baik saja. Jadi tidak ada yang perlu ditakutkan dari trauma. Manusia punya kemampuan alamiah untuk sembuh dari trauma.


Namun yang perlu diwaspadai dari trauma adalah potensi perilaku maladaptif yang akan keluar ketika terpicu stimulus yang mirip dengan kejadian di masa lalu.


Misal, XYZ pernah mengalami bencana tsunami. Pada peristiwa tersebut, kedua orangtuanya menjadi korban.


Sampai saat ini , XYZ masih merasa gemetar, kepala pusing, keringat dingin ketika mendengar kata bencana dan tsunami. Hal ini membuat kondisinya terkadang tidak stabil.


Atau seorang istri yang pernah mengalami pelecehan seksual di masa kanak-kanak, tidak mau melayani suami karena memori traumatik yang menghantuinya.


Karena itulah, trauma perlu ditangani dengan tepat.


Bagaimana menyembuhkan trauma?


Saya ingin menekankan bahwa kesembuhan itu berasal dari Allah semata. Apa yang kita lakukan adalah semata ikhtiar, yang hasilnya menjadi kewenangan Allah.



Tema penyembuhan trauma adalah seputar merespon aspek Thinking, Feeling, Acting, dan Need yang terjadi saat seseorang mengalami peristiwa traumatik.


Penjelasannya sebagai berikut.


Thinking: mengalirkan apa yang kita pikirkan saat peristiwa itu terjadi.

Feeling: mengungkapkan apa yang kita rasakan saat peristiwa terjadi.

Acting: menyatakan yang ingin dilakukan saat peristiwa itu terjadi.

Need: menyampaikan apa yang dibutuhkan saat peristiwa itu terjadi.

Keempat hal inilah yang perlu dialirkan jika ingin menyembuhkan peristiwa traumatik.

Teknik trauma healing banyak, namun pada intinya adalah mengalirkan semua aspek di atas dalam bentuk cerita lisan, menggambar, psikodrama/bermain peran, menulis, atau mengimajinasikan kembali memori traumatik bagai menonton film dalam kepala kita.


Demikian rangkuman singkat workshop trauma healing yang pernah saya ikuti. Semoga bermanfaat ;)

Thursday, 29 August 2019

Variasi dan Jeda agar Ibu Tetap Berdaya (Sesi Tanya Jawab KUNCI)

Variasi dan Jeda agar Ibu Tetap Berdaya




.



Ada beberapa pertanyaan bagus selama acara KUNCI 10 Agustus lalu. Tapi yang paling berkesan bagi saya adalah pertanyaan dari seorang teman, yang merupakan ibu dari 2 anak.




.




Bunyinya kurang lebih begini:



.




"Bu, kenapa ya saya merasa lebih mampu sabar menghadapi anak, ketika dalam sepekan ada satu atau dua aktivitas di luar rumah? Meskipun aktivitas itu melelahkan, saya akan pulang ke rumah dengan lebih sabar, seperti apapun perilaku anak saya.




.




Sementara jika saya sedang terus menerus hanya beraktivitas di rumah, saya cenderung cepat emosi, sulit sabar menghadapi anak. Padahal saya ingin terus menerus bisa ada di rumah untuk mengasuh anak saya"



.



Jawaban Bu Mun membuat saya terharu dan makin melihat kebijaksanaan dalam diri beliau.




.




Bu Mun menceritakan pengalamannya sebagai ibu rumah tangga penuh waktu. Hampir seluruh waktunya beliau habiskan di rumah bersama anak-anak. Beliau baru berkarir di luar rumah setelah anak terakhir berusia 5 tahun. Beliau paham betul bagaimana kehidupan seorang ibu rumah tangga.




.




Bu Mun sependapat, berada di rumah sepanjang waktu, melakukan rutinitas pekerjaan domestik dan mengasuh anak sejak bangun tidur hingga tidur lagi, terkadang membuat diri dihinggapi kejenuhan.




.




Kejenuhan inilah yang memicu emosi menjadi tidak stabil.




.




Bu Mun mencontohkan refleksi diri beliau ketika mengasuh anak dalam kondisi kuliah S1 dan lanjut S2 di luar negeri. Beliau melahirkan, menyusui, menyelesaikan tugas rumah tangga tanpa seorangpun yang membantu kecuali suami. Semua kegiatan kuliah diatur sedemikian rupa agar urusan keluarga tetap menjadi prioritas.




.


Menurut beliau, saat mengerjakan pekerjaan domestik seolah tidak ada selesainya, tidak kelihatan hasilnya.




.



Misalnya memasak. Begitu selesai masak, dimakan, habis. Lalu masak lagi, dimakan, habis lagi. Tidak ada bekasnya.




.




Begitu pula mencuci, menyetrika, beberes rumah. Kalau sudah beres, pasti ada pengulangan pekerjaan lagi dan lagi. Tak terasa waktu sudah beranjak malam kembali, tapi pekerjaan itu tak habis-habis. Besok dan besoknya, sama. Ada lagi, ada lagi.




.



Beda halnya ketika waktu digunakan untuk mengerjakan tugas kuliah, misalnya. Dalam dua jam kita selesai satu bab, jelas kelihatan hasilnya. Orang pun seolah lebih menghargai karena terlihat nyata hasilnya.





.






Oleh karena itu, menurut Bu Mun, seorang ibu perlu VARIASI dalam kehidupan sehari-hari. Tidak terus menerus tenggelam dalam tugas domestik. Melainkan punya waktu sesekali untuk keluar rumah, melakukan kegiatan yang bermanfaat dan tidak monoton.




.



Dalam pengalaman Bu Mun, variasi ketika beliau menjadi ibu rumah tangga beranak balita 4 adalah kegiatan beliau membina keIslaman di sekitar rumah. Ini beliau lakukan dengan istiqomah, baik saat berada di luar negeri apalagi saat pulang ke Indonesia.




.


Sambil mengasuh 3 balita,
 dan 1 anak yang sudah masuk TK, Bu Mun menawarkan diri ke tetangga-tetangga belajar baca Al-Quran secara privat, lalu membentuk kelompok pengajian ibu-ibu di sekitar rumah. Beliau juga  mengontrak rumah dekat tempat tinggal mendirikan Diniyah Bina Insaniyah untuk mengajarkan tambahan pelajaran agama bagi anak-anak SD.



.


Saat di luar negeripun demikian. Meskipun harus naik turun angkutan umum, membawa 4 anak kecil dan 1 bayi, beliau giat mengisi kajian keislaman untuk kalangan Muslimah Jepang, Pakistan, Bangladesh, Mesir, dll. Beliau senang melakukannya sebab menjadi aktivitas yang memberi warna tersendiri dalam kehidupan beliau sebagai ibu rumah tangga.




.



Beliau juga selalu meluangkan waktu membawa anak-anak ke taman untuk membuat mereka sibuk bermain bebas. Membawa anak anak-anak ke perpustakaan atau toko buku sehingga tak heran menjadi pecinta buku. Saat anak-anak anteng dengan kegiatan mereka, Bu Mun bisa membaca buku, tilawah, untuk memberi santapan jiwa.




.



Bu Mun menyarankan para ibu untuk menekuni hobi dan berjejaring dalam komunitas yang memberdayakan. Saat ini untuk mengikuti berbagai k

egiatan positif kita sudah dibantu oleh teknologi digital sehingga lebih mudah, tidak perlu sering meninggalkan rumah.




.



Semua variasi itu adalah usaha untuk mengusir kejenuhan agar ibu bisa tetap optimal menjalankan perannya di rumah.




.


Pernah suatu ketika, Bu Mun ditelepon oleh sesama Muslimah di Jepang. Ibu tersebut menangis minta nasihat. Ia mengaku benar-benar merasa sudah tidak bisa sabar menghadapi tiga anak yang rewel padahal ada segunung pekerjaan rumah tangga yang tak ada habisnya.



.



Apa jawaban Bu Mun? Beliau tidak mengeluarkan nasihat, tidak menyitir ayat, melainkan menyuruh ibu tersebut keluar rumah saat itu juga, membawa semua anaknya.



.



Ibu tersebut awalnya heran. Mengingat di luar rumah salju sedang turun. Membayangkan betapa repotnya keluar rumah membawa semua anaknya saat itu. Sementara di rumah cucian menumpuk demikian pula peralatan makan yang kotor, juga rumah yang berantakan.



.



Tapi Bu Mun terus menerus mengulangi saran itu hingga menekankan untuk dilakukan saat itu juga. Sang ibu menyerah dan mulai berubah pikiran. Ia mengajak semua anaknya keluar rumah dengan kostum lengkap yang melindungi dari dingin salju.



.



Beberapa saat setelah berada di luar, anak-anaknya puas bermain. Sang ibu pun merasa tenang karena dapat menghirup udara segar dan menyaksikan tiga anaknya bergembira.


.



Mereka pulang setelah ketiga anaknya puas bermain. Sampai di rumah ketiganya tidur pulas dan sang ibu bisa menyelesaikan segunung pekerjaannya dengan hati yang ringan.  Sang ibu menelepon Bu Mun dengan ceria, menyampaikan terimakasih atas  saran Bu Mun.  Alhamdulillah Allah berikan kembali semangat sang ibu menjalankan perannya sebagai manajer rumah tangga.



.



Begitulah, betapa sebuah jeda dan variasi sangat dibutuhkan dalam keseharian seorang ibu.




.


Saya pun menghela napas.





.


Jadi, saat diri mulai penat dengan rutinitas, bukan berarti ada yang salah dengan seorang ibu. Bukan  berarti ia tidak ikhlas, tidak ridho dengan perannya.





.




Mungkin ia hanya butuh variasi untuk mencukupi kebutuhan intelektualnya yang dinamis. Ia hanya butuh jeda untuk mengisi ulang baterai hatinya agar jiwanya kembali semangat memperbarui keikhlasan, kesabaran, dan kekuatan menjalani perannya sebagai ibu.




.



Masya Allah, terimakasih Bu Mun atas pengalamannya yang menginspirasi.



.


#KUNCI
#KelasIbuBerdaya

Monday, 29 July 2019

Menuju Bahagia Maksimal dan Pusing Minimal: Empat Trik Mengasuh Tanpa Teriakan Tanpa Kekerasan*

*Menuju Bahagia Maksimal dan Pusing Minimal: Empat Trik Mengasuh Tanpa Teriakan Tanpa Kekerasan*



_Bingung ngadepin anak..dilembutin gak ngerti-ngerti, dikasarin tambah jadi..terus aku kudu piye??!!”_



Kalimat itu saya jadikan pembuka di buku saya, Parenting Tanpa Pusing: Cara Asyik Mengasuh Anak dengan Bahagia.



Banyak orangtua yang pusing menghadapi anak, tanpa menyadari bahwa anak pun pusing diasuh dengan cara keliru oleh orang tua😡😱



Semakin saya belajar parenting, semakin saya menyadari satu hal: bahwa *anak terlahir untuk membuat kita bahagia.*

Sebagaimana Allah memberikan kita *amanah untuk membahagiakannya.* ❤❤



Jadi, mari bergandengan tangan untuk saling membahagiakan.




Tentu, hidup tak pernah lepas dari masalah.


Namun, jika kita memilih bahagia, maka kita dapat menghadapi masalah dengan hati selapang angkasa.




Gimana, Mak, maukah bahagia maksimal dengan meminimalisir kepusingan?



Yang mau boleh lanjutkan baca, yang nggak, gapapa kalo mau ikutan baca jugaπŸ˜…



Bahagia dimulai dari cara pandang yang tepat dalam menyikapi masalah. Berikut ini contoh cara pandang yang keliru dan memicu stres dalam mengasuh anak:



1. Fokus pada KEKURANGAN anak daripada KELEBIHANNYA


2. Fokus pada PERILAKU BURUK anak daripada PERILAKU BAIKNYA


3. Fokus pada MASALAH bukan pada SOLUSI


4. Fokus ingin mengubah anak tapi tidak mengubah DIRI SENDIRI


Nah, apakah kita memiliki salah satu cara pandang ini?


Jika Ya, saatnya mengubah cara pandang kita agar bisa mengasuh dengan bahagia. Tanpa teriakan, tanpa kekerasan.



Emang bisa Mak? Insyaallah bisa, selama kita berusaha mengasuh sesuai rambu Yang Menitipkannya.



Gimana caranya, Mak?


Yuk belajar sama-sama menerapkan trik berikut ini:



1.🐣 Menerapkan komunikasi efektif sesuai tahap dan fitrah perkembangan anak


_"Gimana ya Mak, anakku itu gak ngerti-ngerti diomongin berkali-kali!"_


Coba perhatikan, Mak. Apa cara ngomong kita sudah tepat untuk anak seusianya?


Perlu diingat pula, anak lebih meniru apa yang ia lihat daripada ia dengar.


Hal penting lainnya, otak anak belum matang untuk bisa nyambung memahami ceramah 2 SKS emaknyaπŸ‘©πŸ»‍πŸŽ“πŸ‘©πŸ»‍🏫



Bukankah bapaknya yang sudah dewasa pun sering gagal paham walaupun udah berkali-kali dikomplen emak? 🀦🏻‍♀πŸ’†πŸ»πŸ€·πŸ»‍♀


Kira-kira begitu, detailnya, nanti kita diskusi langsung aja yuk πŸ˜„


2.  🐣🐣Menemukan PESAN dibalik perilaku anak


_"Kenapa ya Mak, anak saya ini hobinya ngamuk sampe ngerusak barang?"_


Ya, saya mah gak tau kenapa.


Saya cuma bisa bilang, anak itu gak ujug2 ngamuk ngerusakin barang dari lahir kan?



Semua perilaku anak ada latar belakang pemicunya, ada pesan yang ingin disampaikan.


Orangtuanya-lah yang sebenarnya paling paham, jika mereka jadi pengamat ulung, jeli memperhatikan anaknya.


Apapun perilaku anak, biasanya pesannya berhubungan dengan *kebutuhan anak.* Bisa kebutuhan fisik maupun psikis, yang coba ia sampaikan dalam keterbatasannya berkomunikasi.


Selanjutnya, langsung didiskusikan saja yaa.



3.🐣🐣🐣 Menerapkan kesepakatan, komitmen dan KONSISTEN dengannya


_"Gimana sih cara menerapkan kesepakatan? Konsekuensi atau hukuman bedanya apa?"_



Bagian ini silakan tanya jawab aja ya biar gak kepanjangan artikelnya πŸ˜†
Kan judulnyaa meminimalkan kepusingan, jadi tulisannya jangan panjang-panjang lah😷


4. 🐣🐣🐣🐣 Menjadi orang tua penuh cinta yang diidolakan anak


Kenapa ada abege yang mau susah payah sukarela bangun subuh, antre berjam-jam, nabung jauh-jauh hari, demi artis K-POP kesayangannya?


Ya karena mereka jatuh cinta, nge-fans, mengidolakan si artis.


Gimana kalo anak kita ngefans-nya sama orang tua? Bayangkan sendiri enaknya 😚πŸ₯°


Saya cukupkan di sini ya Mak, biar gantung, penasaran jadi tanya langsung 😊


Sebetulnya semua penjelasan lengkap ada di buku Parenting Tanpa Pusing Cara Asyik Mengasuh Anak dengan Bahagia, yang masih coming soon 😘
Tapi saya bocorkanlah di grup ini buat Mamak2 kece kesayangan.



Silakan bagi yang mau diskusi dipersilakan. Saya hanya memfasilitasi, sama-sama belajar aja πŸ€—



Terimakasih.


*Yunda Fitrian, C-Team*

Friday, 19 July 2019

Orangtua Alien

ALIEN VS THE PRETENDERS

“Ustadz, saya bingung. Anak gadis saya pacaran sama lelaki pemabuk dan gak bener..sekarang dia melawan, gak mau nurut untuk putusin pacarnya. Saya bingung, kok bisa bisanya dia lebih nurut sama lelaki itu daripada saya yang melahirkannya?!”

Sang ustadz tidak menjawab, melainkan balik bertanya, “ibu dan bapak selama ini ada dimana ketika putrinya sedih, sakit, bingung, atau butuh bantuan? Mungkin lelaki itulah yang selalu ada saat putri ibu membutuhkan perhatian dan pertolongan. Jadi jangan heran Ia lebih memilih lelaki itu”

Potongan dialog itu diceritakan suami saya sepulangnya beliau dari sebuah seminar parenting.

Sebuah dialog yang menyentak kami sebagai orang tua.

Kedekatan Hati memang tidak selalu berbanding lurus dengan banyaknya waktu atau kegiatan bersama. Melainkan pada Intensitas emosi yang menyertai, serta momentumnya.

Ada kalanya, kita merasa begitu dekat dan terpengaruh oleh seseorang meski waktu bersamanya hanya Bilangan Bulan, hari, bahkan jam.

Karena orang itu hadir di saat kita membutuhkan. Saat emosi kita begitu intens menyala. Saat momennya pas.
Misalnya saja, konon orang yang pergi haji akan merasa sangat erat persaudaraannya dengan sesama rombongan. Bahkan setelah di tanah air, jika bertemu setelah bertahun berpisah pun akan tetap merasa akrab.

Atau ingatkah kita bahu siapa yang pernah jadi sandaran ketika airmata luruh di masa remaja? Err berasa tuwir sih pas ngetik ini,hwkwk. Tapi bener kan, yang pernah ngalamin masa sulit pas remaja (atau di masa sulit apapun) pasti masih inget pernah curhat nangis2 sama siapa..hayooo.

Maka Parenting juga adalah tentang menciptakan momen bersama anak. Tentang menjadi orang yang diandalkan untuk merasa nyaman.

Momen bahagia ketika bermain bersama.
Atau momen lega, tentram, damai ketika datang membawa masalah.

Maka pertanyaan berikutnya, apa yang kita lakukan saat anak datang membawa masalah?
Atau lebih dulu yang harus dijawab, apakah kita tahu ketika anak sedang punya masalah?

Dalam kasus dialog tadi, kondisinya si anak sudah remaja.

Banyak cerita orang tua merasa tidak kenal lagi dengan anaknya yang beranjak remaja. Seolah anak berubah menjadi alien.

Nyatanya, orang tualah yang sejak kecil menjadi Alien bagi anak anaknya.

Alien, makhluk asing yang tidak tahu dunia anak. Tidak paham bahasa anak. Alien yang lupa bahwa dulunya dia adalah anak manusia.. (nah lho bisa jadi judul sinetron; alien yang tertukar, hwkwk).

Orang tua alien, saat anak balitanya coret coret tembok, langsung angkat suara tinggi, seolah di planetnya gak pernah ada kejadian begitu.

Padahal cukup ajak anak mencoret d tembok kamar atau kertas, beres. Memang fasenya mereka corat coret. Melatih jemarinya terampil menulis (atau mengetik layar #digitalnative).

Atau saat balitanya dikit dikit nangis, langsung disambit dengan teriakan dan label cengeng. Seolah di planetnya gak ada balita nangis.

Padahal cukup ditenangkan, lalu diajak cari solusi bareng. Yah namanya juga bocah, wajarlah nangis dikit dikit. yang penting anak diajarkan untuk belajar mengendalikan emosi.

Orang tua alien, menanggapi dingin celoteh balitanya. “He-eh" “iya" “oh bagus" “boleh" sambil matanya tak lepas memantau planetnya yang bernama gadget.

Sampai balita ini masuk sekolah, lalu beranjak dewasa, polanya tidak berubah.
Maka si remaja pun mulai belajar bahwa orangtuanya adalah alien. Asing di rumah sendiri.

Mencarilah ia sesama makhluk bumi: teman sebaya yang bisa memahaminya.
Ya kalau temannya baik alhamdulillah.
Kalau tidak?

Teman sebaya ini tidak hanya berwujud sesama remaja. Tapi bisa berupa sebuah geng, komunitas, acara dan dunia maya.
Tempat mereka merasa diterima dan dianggap ada, sebagai manusia.

Maka siapa yang mengandung, melahirkan, menyusui, menafkahi, tidak ada signifikansinya dalam hidup mereka.
Mereka kan tidak minta dikandung, dilahirkan, dinafkahi.

Tidak ada kenyamanan saat bercerita, karena ujung ujungnya pasti dimarahi.
Tidak ada kemauan untuk terbuka, karena akhirnya pasti disalahkan.

Jadi tidak aneh kan, ada anak yang lebih pilih pemabuk untuk melabuhkan hatinya? Karena si pemabuk ini punya banyak momen berarti dengan si anak.
Sementara orang tua?

Hhh, memang banyak yang harus kita pelajari sebagai orang tua. Bagaimana tidak, yang Allah titipkan pada kita ini wakilNya di muka bumi.

Dan sebagai penutup, lirik lagu ini tiba tiba mengalun di memori saya. Saya berikan teks lengkapnya copy paste dari mbah gugel..theme song kita para ortu untuk anak kita, seharusnya...

Oh,.why you look so sad?
Tears are in your eyes
Come on and come to me now, and don't be ashamed to cry,
Let me see you through, 'cause I've seen the dark side too.

When the night falls on you, you don't know what to do,
Nothing you confess could make me love you less,

I'll stand by you,
I'll stand by you, won't let nobody hurt you,
I'll stand by you

So if you're mad, get mad, don't hold it all inside,
Come on and talk to me now.

Hey there, what you got to hide?
I get angry too, well, I'm alive like you.
When you're standing at the cross roads,
And don't know which path to choose,
Let me come along, 'cause even if you're wrong

I'll stand by you,
I'll stand by you, won't let nobody hurt you,
I'll stand by you.

Baby, even to your darkest hour, and I'll never desert you,
I'll stand by you.

And when, when the night falls on you baby,
You're feeling all a lone, you're wandering on your own,

I'll stand by you.
I'll stand by you, won't let nobody hurt you,
I'll stand by you, baby even to your darkest hour,
And I'll never desert you,
I'll stand by you,
I'll stand by you.
I'll stand by you, won't let nobody hurt you,
I'll stand by you, baby even to your darkest hour,
And I'll never desert you
(I'll stand by you-the pretenders, pernah jadi ost dawson creek yak klo ga salah)

So, don't be alien
let's stand by our children,
Before someone else does...


(Notes FB Yunda Fitrian Maret 2017)

Thursday, 11 July 2019

Membelokkan Fitrah

Membelokkan Fitrah

Tiap anak terlahir dengan potensi menjadi baik (fitrah), orang tualah yang membentuknya menjadi bermasalah.
Anak terlahir dengan potensi jujur. Namun ketika ia tak sengaja menumpahkan air, orang tua melotot sambil berteriak, "siapa yang numpahin air?!"
Sehingga ia belajar, jujur mengakui kesalahan hanya akan membuatnya kena omelan.
Yang ingin anak tetap dalam fitrah jujur, mari ganti respon kita dengan berlatih:
"Airnya tumpah sayang, ayo dilap. kalau tidak dilap bisa licin nanti ada yang jatuh".
Begitu juga ketika anak membawa pulang kertas ulangan bernilai buruk. Tidak perlu disalahkan. Cukup bertanya apa yang bisa ayah ibu bantu?
Karena semua orang, makin disalahkan hanya akan makin banyak berbuat salah.
Anak lahir dengan fitrah menjadi mandiri. Namun orang tua merusak fitrah itu ketika ia belajar memasang kancing dan kesulitan, lalu berkata:
"Sini mama bantu, lama amat sih!", begitu berulang ulang ketika anak lelet memasang tali sepatu, membuka tutup tempat minum dan seterusnya.
Sehingga ia belajar, aku tidak bisa apa apa. Mama Papa lah yang punya daya.
Maka jangan salahkan anak ketika usianya mendewasa tapi jiwanya tetap kerdil dalam ketergantungan.
Yang ingin anaknya tetap dalam fitrah mandiri, mari ganti respon kita dengan menahan diri. Biarkan anak mencoba. Beri ia kesempatan karena percayalah ia pasti bisa.
Ayah bunda mari terus belajar untuk menjaga ananda tetap dalam fitrahnya. Menjadi manusia yang hatinya selalu hidup dalam kebaikan. Sebab sejak lahir ke dunia, tugas kita adalah menjaga fitrahnya. Menjadi manusia beraqidah lurus dan memakmurkan bumi dengan segala potensi kehebatannya.
(Bersambung..)

Butuh Hiburan-facebook Yunda Fitrian

Butuh Hiburan


Di sebuah seminar parenting, Ustadz Bendri ditanya apa pendapatnya tentang anak yang gemar K-Pop.
Saya kira Ustadz Bendri akan mengatakan bahwa K-POP itu berbahaya dan sejenisnya. Ternyata dugaan saya salah.
Ustadz Bendri justru menjawab dengan memposisikan diri sebagai anak.
Beliau bilang, K-POP adalah kebutuhan hiburan bagi anak.
Anak akan mencari pelarian ke KPop ketika orang tua tidak bisa memenuhi kebutuhan hiburan anaknya.
Maka jadilah orangtua entertainer yang bisa menghibur dan bermain dengan anak.
Kebersamaan yang menyenangkan dengan orang tua akan membuat anak terpenuhi kebutuhannya akan hiburan.
Mereka tak akan haus akan sosok penghibur yang akhirnya menjadi idola.
Sebagaimana Rasulullah telah mencontohkan kegembiraan beliau bersama kanak-kanak. Berlomba lari, berboncengan unta, bercanda, menghibur di saat lara.
Beliau Shalallahu alayhi wasallam pun dengan mudah menjadi idola karena akhlaknya yang mulia.
Anak juga punya kebutuhan untuk diapresiasi. Ketika menjadi penggemar K-Pop membuat mereka diapresiasi oleh sesama, mereka jadi bangga.
Jadilah orangtua yang gemar memberi apresiasi bagi anak. Hargai usaha dan karya mereka.
Berikan pula waktu khusus bagi anak agar mereka selalu merasa istimewa.
Jawaban Ustadz mengingatkan saya pada sebuah cuplikan wawancara Kak Seto di televisi.
Waktu itu beliau mengatakan hal yang hampir sama. Katanya, orang tua harus multitalenta agar bisa jadi idola anak. Buat anak berbinar gembira saat bersama dengan orang tua.
Saya pun bercermin diri.
Apakah saya sudah berhasil menghadirkan binar bahagia di mata anak-anak?
Apakah saya sudah mematri kenangan manis dalam masa kecil mereka?
Apakah mereka terhibur ketika bersama saya?
Semoga masih ada waktu untuk itu semua.
Semoga Allah berikan kita kesempatan dan kemampuan untuk memenangkan hati anak-anak kita.