Friday, 5 April 2019

Ketika Perempuan (Paling) Shalihah Berkeluh Kesah-FB Yunda Fitrian

Ketika Perempuan (Paling) Shalihah Berkeluh Kesah



"Ah, emak-emak depresi itu kurang iman aja!"



Kadang ada orang yang menganggap depresi atau stres tingkat tinggi itu karena kurang iman. Kurang ibadah. Kurang ngaji.



Saya tidak punya cukup ilmu untuk menilai. Tapi saya ingin berbagi sesuatu yang saya dapat setelah merenungkan kisah seorang perempuan penghulu surga.



Perempuan terbaik, paling shalihah di zamannya; Maryam binti Imran. Bunda dari Nabi Isa Alayhissalam.



Alquran mengabadikan ucapan Maryam saat hendak melahirkan Isa alayhissalam. Sebuah kalimat yang menyiratkan beban mental begitu berat.



Sebuah kalimat yang menurut saya, terlalu tabu untuk diucapkan. Apalagi oleh seorang perempuan yang menjadi pemimpin perempuan surga. Kalimat yang mungkin kalau diucapkan di hadapan emak yang gak empati, responnya persis sama dengan kalimat yang saya tulis di awal tadi :D



Allah mengabadikan ucapan curhat Maryam itu dalam Alquran. Ucapan yang memang hanya Maryam ucapkan dalam kesendirian, bukan di hadapan kaumnya apalagi di medsos yak. Ucapan tersebut tertulis dalam surat Maryam ayat 22-23.



"Dan kisahkanlah di dalam Kitab (Al-Qur’an) tentang Maryam, ketika ia menjauhkan diri dari keluarganya ke suatu tempat di sebelah timur. Rasa sakit hendak melahirkan membawanya pada pohon kurma, ia berkata: “Oh, alangkah baiknya aku mati sebelum ini, dan aku menjadi sesuatu yang tak berarti dan dilupakan.”".


Saya membayangkan duka hati Maryam. Seorang gadis yang beribadah siang dan malam di Baitul Maqdis. Semua orang hanya mengenalnya sebagai seorang perempuan shalihah.


Lalu tiba-tiba ia hamil tanpa suami? Apa kata dunia??


Maryam tahu tak akan ada yang percaya. Hanya Zakariya dan istrinya, yang yakin akan kebenaran cerita Maryam.


Setegar-tegarnya Maryam, setinggi-tingginya iman Maryam, gadis itu tetap hancur hatinya mendengar omongan orang.


Itu Maryam, perempuan paling shalihah pada zamannya. Paling banyak zikirnya. Paling bagus ngajinya. Paling tebal imannya. Jangan ditanya ibadahnya.


Bisa-bisanya perempuan seshalihah itu akhirnya berkeluh kesah? Bahkan sampai berucap mengharap kematian?Hanya karena omongan orang?



Betapa begitu besarnya pengaruh kalimat tuduhan, nyinyiran, dan penghakiman terhadap batin seorang Maryam.



Maryam sang manusia pilihan masih bisa merasakan sakit hati, pilu terhadap pandangan orang.



Bahkan sampai berandai mati saja. Dilupakan orang. Dianggap tak pernah ada. Daripada harus menghadapi dunia yang tak berpihak padanya.




Di situlah saya tersadar. Maryam, perempuan shalihah yang imannya tak mungkin diragukan itu, hanya manusia biasa.



Manusia, diciptakan Allah dengan fitrah rasa. Punya emosi dalam jiwa. Keberadaan iman tidak meniadakan gejolak emosi manusia. Melainkan mengarahkannya untuk mengelola segala rasa dalam taat padaNya. Tapi sekali lagi, bukan menghilangkan semua emosinya. Inilah bedanya manusia dengan malaikat.



Butuh waktu bagi manusia untuk mengelola emosi jiwa dan buncahan rasa.   Ada proses yang perlu dilewati, bukan dalam sekejap mata.



Ah, entah mengapa setelah membaca  kisah Maryam, saya tak sampai hati menyimpulkan perempuan yang depresi itu kurang iman.



Justru bisa jadi episode depresi yang mereka alami, adalah cara Allah menaikkan mereka ke derajat yang lebih tinggi. Atas jihad mereka mengelola hati.



Siapa tahu, sakit hati yang mereka rasa, adalah jalan menuju surga. Sebab gugurnya dosa. Sebab pahala atas lelah jiwa.


Jangan-jangan saya yang ujiannya biasa-biasa saja, sedang jalan di tempat belok kiri dikit masuk neraka, hiks naudzubillahimindzalik..



Kembali ke kisah Maryam. Setelah curhatan duka tersebut, Allah pun langsung meresponnya.



Ternyata bukan dengan menghardik Maryam karena ia mengeluh berandai mati saja. Allah tidak bilang, "Eh Maryam, gak boleh ngomong gitu! Mana iman kamu?!".



Tidak.



Allah Maha tahu, manusia yang ia ciptakan sedang berada di titik terendah dalam hidupnya. Sedang kalut dengan emosi yang mengaduk jiwa.


Allah Maha tahu, yang dibutuhkan Maryam saat itu bukan omelan.  Bukan nasihat. Tapi dukungan. Ketenangan.


Apa yang Allah lakukan?



Surat Maryam ayat selanjutnya, 24-26.


"Kemudian Jibril menyerunya dari tempat yang rendah, “Janganlah kamu bersedih, sesungguhnya Tuhanmu telah menjadikan anak sungai di bawahmu. Dan goyang-goyangkanlah pelepah pohon kurma itu ke arahmu niscaya akan gugur buah-buah kurma yang telah masak itu kepadamu. Maka makanlah dan minumlah, dan senangkanlah hatimu. Jika kamu melihat seseorang, maka katakanlah, “Sesungguhnya aku telah bernazar kepada Yang Maha Pengasih untuk berpuasa, maka aku takkan berbicara kepada seseorang pun pada hari ini.”"


Allah mengutus 'konselor' berupa malaikat Jibril untuk memandu Maryam. Menghalau kesedihan dan menuntunnya fokus pada kekuatan yang masih ia miliki.  Perintah untuk menggoyang pelepah pohon kurma untuk menjatuhkan kurma matang adalah cara Allah membuat Maryam percaya dirinya masih punya daya.


Selanjutnya Maryam diminta makan dan minum, serta menyenangkan hatinya. Menurut saya, ini solusi yang sangat manusiawi!


Maryam yang sedang tenggelam dalam rasa sakit karena melahirkan, emosi sedih membayangkan tudingan kaumnya, diberikan kesempatan untuk makan dan minum. Setelah  terselesaikan  kebutuhan  pokoknya  tersebut, barulah  Allah menyuruh Maryam menyenangkan hatinya.


Selama Maryam menata hati, Allah beri ia kesempatan untuk menenangkan diri, memenangkan pertempuran batinnya dengan berpuasa. Maryam diperintahkan untuk berpuasa dan tidak berbicara. Tidak membantah apapun komentar negatif kaumnya.



Masya Allah.


Membaca kisah ini sungguh membuat saya merasakan kasih sayang Allah. Bahwa Dia tak pernah meninggalkan hambaNya. Tidak pernah membebani di luar batas kemampuan hamba Nya. Bahwa Allah sangat memanusiakan manusia.


Bahwa ungkapan kesedihan, merasa tak ada harapan, bukanlah pertanda hilang iman. Melainkan pertanda bahwa yang mengucapkannya hanyalah manusia. Ciptaan Allah yang dibekali fitrah rasa. Makhluk yang membutuhkan perlindungan Robb-nya.



Maka jika ada emak yang curhat kelelahan, sedih, sampai punya keinginan menyakiti diri sendiri atau anaknya, jangan buru-buru menghakiminya kurang iman.



Ajaklah ia duduk nyaman, fokus pada kekuatan yang masih dimilikinya. Bawakan makan, minum, dan senangkan dulu hatinya. Baru bantu ia menata emosinya.



Jika sang emak curhatnya di medsos, gak usah nimbrung komentar nyinyir. Cukup diinbox, diwapri, diajak ngobrol personal aja. Kalau benar-benar peduli dan sayang padanya.


Sebab kita tak pernah tahu, Allah mungkin sedang menaruh perhatian padanya. Sedang mengamati siapa yang akan ikut dapat pahala dalam skenario ujian seorang hamba. Siapa yang ikut menolong dengan tulus dan siapa yang hanya ikut menjatuhkan sesama.


Wallahu a'lam bishshawab. Semoga Allah kuatkan semua ibu yang sedang berada di titik terendah dalam hidupnya. Makan, minum, dan bersenang hatilah, Bunda. Sebab Allah sedang membukakan jalan menuju surga. InsyaAllah.


Yunda Fitrian, Sahabat Ibu Berdaya











Monday, 18 February 2019

Ilmu Cahaya

Ilmu itu cahaya.

Makanya emak-emak sebanyak apapun anaknya,

Serempong apapun hidupnya,

Kalau dikasih kesempatan terus belajar, matanya akan tetap berbinar.

Menuntut ilmu itu Allah WAJIBKAN bagi lelaki maupun perempuan.

Bagi emak-emak maupun bapak-bapak

Sejak lahir sampai masuk alam kubur.

Tidak berhenti sampai mati.

Manusia yang terus belajar akalnya terasah karena ada ilmu yang jadi pelita.

Ia jadi mampu ambil jeda dari emosi sesaat yang terkadang bergelora.

Ia jadi bisa melihat lebih dekat masalah yang ada,

Menemukan solusi karena ada pengetahuan dan inspirasi dari sesama.

Tidak, ia tidak jadi manusia sempurna.

Ia hanya jadi manusia yang berusaha memperbaiki diri sesuai ilmu yang dipelajari.

Karenanya Wahai Para Suami,

Izinkanlah istrimu menuntut ilmu dengan totalitas jiwa dan raga,

Gak sambil ngegembol bocah karena sudah pasti konsentrasi terpecah.

Sudilah beberapa jam saja menjaga anak-anakmu agar istri bisa fokus saat belajar.

Bukankah hampir 24/7 ia mengasuh anak-anakmu agar kau tenang bekerja?

Rasakan sesaat penatnya seharian bersama buah hati tercinta, yang selama ini mungkin hanya kau lihat lucu-lucunya saja.

Ingatlah, sejak Islam datang perempuan dimuliakan.

Diwajibkan menuntut ilmu.

Bahkan para  shahabiyah di masa Rasulullah punya hari khusus untuk majelis ilmu.

Lantas apa pantas lelaki yang mengaku pengikut Beliau, abai terhadap kadar keilmuan istrinya? Ibu dari anak-anaknya?

Dengan ilmu terang benderang lah jalan keluar dari masalah yang semula gelap gulita.

Dengan ilmu Allah tinggikan derajat hamba di hadapanNya.

Dengan ilmu, insyaallah dunia dan akhirat bahagia.

Yuk terus saling semangati pasangan kita untuk menuntut ilmu,

Agar makin tunduk merendahkan diri di hadapan Allah, karena nyala lentera ilmu dalam jiwa.

*Teriring doa semoga Allah limpahkan cinta dan ridhoNya kepada para suami yang senantiasa memberikan ruang bagi istrinya untuk menuntut ilmu

#keluargaberdaya
#suamishalihbaikhati
#suamiistribelajarlagi

Komentar Gak Ngaruh

Jenis-jenis komentar orang ketika kami menjawab punya tiga anak perempuan semua:

1. MasyaAllah pintu surga!

2. Alhamdulillah, rejeki!

3. Penasaran dong, nambah lagi lah!

4. Nanti juga dapet mantu laki-laki!

5. Ah masih muda, coba lagi, entar yang keempat dapet cowok!

Semua jawaban itu biasanya kami jawab dengan jawaban serupa:

Senyum, bilang aamiin, Alhamdulillah.

Karena kita gak pernah bisa mengendalikan komentar orang.

Kita hanya bisa mengendalikan respon diri sendiri.

Tiap ucapan adalah doa, dan akan kembali pada yang mengucapkannya.

Jadi biarlah Allah saja yang membalas tiap komentar dengan perhitunganNya.

Cukuplah kita berbaik sangka, memohonkan kebaikan, dan memuji Allah atas semua ketentuanNya.

Kadang tak mudah belajar melapangkan hati dalam memilih respon, tapi percayalah lebih tak mudah jika semua komentar kita masukkan dalam hati.

Biarlah hanya komentar bermanfaat saja singgah di hati. Yang mudharat, biar menguap ke langit, serahkan pada pemilik semua hati.

Dan semoga kita termasuk orang yang dapat pahala dari komentar dan celetukan kita, di dunia nyata maupun maya.

#selfreminder
#dibawaasikaja
#alhamdulillah
#keluargaberdaya

Bukan Peminta Sedekah_catatan FB Yunda

"Wahai suami, kalau istri dengan kesadaran dan kerelaan hati, memilih mengabdikan dirinya di rumah mengurus anak-anakmu, meninggalkan pekerjaannya di luar rumah yang menghasilkan uang,

maka jangan biarkan ia sampai MEMINTA-MINTA hanya untuk belanja kebutuhan keluarga.

Penuhilah kebutuhannya tanpa DIMINTA", kalimat itu terucap dari seorang ustadz pada sebuah seminar keluarga.

Emak ada yang setuju?

Saya yakin semua emak paling tidak nyaman kalau harus meminta.

Apalagi kalau sejak lajang sudah terbiasa mandiri. Begitu nikah, punya anak, gak kerja lagi rasanya sungguh gak nyaman harus nagih nafkah dari suami. Padahal itu hak istri.

Gak heran, hampir semua istri berbinar-binar kalo ngomongin peluang cari penghasilan dari rumah. Betul apa bener?

Karena para istri itu sungguh tidak ingin bergantung apalagi jadi peminta-minta di hadapan suami.

Jika dalam Islam, sedekah terbaik adalah kepada anak istri, maka wahai suami, marilah nafkahi anak istri dengan cara terbaik.

Bukan menunggu istri meminta-minta.

Ia ibu anak-anakmu, muliakanlah ia dengan memberikan haknya tanpa ia harus meminta.

Insyaallah, ridhonya padamu dan ridhomu padanya akan mendatangkan ridho Allah, yang telah menjodohkan kalian berdua.

Jadi buat para suami, yuk biasakan bertanya:

"Ma, uang belanja tinggal berapa? Ini Papa tambahin", aseeeek...eh, Alhamdulillah :D

"Bun, bulan ini kamu mau ikut seminar dimana? Mau beli buku apa? Ini budgetnya Ayah siapin", duuuh masyaAllah, gimana istrinya gak meleleh tuuuh.

Alhamdulillah ayah @edwin.naufal sudah mempraktekkannya.. walaupun istrinya tetep suka minta jatah tambahan :D maafkan istrimu yg tak pandai atur uang ini yaaa  wkwkwk :D

#cerdasfinansial
#suamishalihbaikhati
#keluargaberdaya

Thursday, 10 January 2019

Testimoni Suami

Hari ini pas buka grup baru inget harus ngumpulin testimoni keluarga.

Alhamdulillah suami pas lagi available di rumah :D

Terimakasih pak suami baik hati atas testimoninya ;)

Wednesday, 26 December 2018

Terjebak Memori Masa Kanak-kanak

TERJEBAK (MEMORI) MASA KANAK KANAK

Saya merasa amat sesak dan panas. Kekesalan saya memuncak mendengar Tangisan dan teriakan dua putri kecil saya yang tengah bertengkar. Amarah saya rasanya sudah di ubun ubun, siap tumpah mengalir lewat teriakan dan cubitan.

 Sedetik saja saya pasti meledak. Sekuat tenaga saya berusaha mengendalikan suara tinggi yang rasanya sudah sampai di kerongkongan.
Maka dengan gigi gemeletuk menahan marah, muka yang terlanjur seram dan napas memburu saya kabur ke kamar mandi.
Menutup mulut dengan handuk lalu teriak sekeras kerasnya. Belum puas, saya pukuli pintu kamar Mandi. Sampai energi saya habis dan terlalu lelah untuk menumpahkan marah pada putri saya.

Begitulah. Membaca Banyak buku dan mengikuti seminar parenting Tidak serta merta membuat saya selalu  bisa menyikapi anak sesuai teorinya. Bagi Sebagian orang tua, LUAR BIASA SULIT untuk melaksanakannya.

Saya pun heran dengan diri sendiri. Saya tidak pernah semarah itu sebelum punya 2 anak. Anak pertama rasanya belum pernah membuat saya sekesal itu. Setelah punya adik, mulailah percikan percikan api emosi menyulut saya.

Ada kalanya kita merespon situasi dengan emosi yang tidak tepat. Yang setelah emosi reda, kita menyesal melakukannya. Kita merasa 'reflek' merespon Saat itu. Padahal jika kita memberi jeda sebentar saja, bisa jadi kita punya waktu untuk memilih respon yang lebih baik.

Saat kita dalam kondisi tegang, respon yang pertama kita tampilkan adalah respon yang sudah terekam  bertahun tahun di kepala kita. Berdasarkan apa yang sering kita alami, lihat dengar rasa. Pada kasus saya tadi, ketika mendengar ribut dan menyaksikan dua putri saya bertengkar, yang langsung terbayang di kepala saya adalah berteriak menyuruh mereka diam. Respon ini bisa saya tampilkan reflek karena mungkin ini yang saya terima sejak kecil. Pertengkaran adalah hal yang tidak diterima dan harus segera diakhiri dengan otoritas orang dewasa, melalui bentakan.

Tapi sebagai manusia dewasa, yang telah belajar dan tahu idealnya, Saya semestinya bisa memilih respon. Saya paham respon yang harus dipilih adalah tetap tenang, lalu mendekati mereka dengan posisi mata sejajar. Selanjutnya menjadi penengah yang adil. Faktanya, sungguh tidak mudah selalu merespon ideal seperti itu.

Kelihatannya manusiawi saat kita orang tua salah merespon anak karena kondisi kita pun tidak selalu fit. Ada kalanya kita sakit, lelah, diburu waktu, dan lainnya yang membuat semua teori terasa terlalu sulit diterapkan. Tetapi sebenarnya saat kita merespon anak dengan salah padahal tau yang seharusnya, kita bisa jadi punya masalah dengan anak kecil dalam diri kita.

Setiap kita punya memori masa kecil yang bisa menyenangkan atau menyedihkan. Memori itu semua tersimpan di otak kita. Siap diambil menjadi Referensi dalam bertingkah laku, sampai kita dewasa bahkan lanjut usia. Jika di masa kecil ketika bertengkar dengan saudara, kita selalu dibentak agar diam, maka memori itulah yang kita pakaI sebagai referensi untuk berespon di saat kita menghadapi anak bertengkar.

Banyak orang dewasa menggunakan respon kanak kanak dalam menghadapi situasi sehari hari. Misalnya, ketika berkonflik dengan pasangan. Suami pulang terlambat, istri buka pintu dengan muka marah. Suami belum menjelaskan sudah disemprot dengan kemarahan. Ehm yang ini perlu saya tegaskan ya, bukan pengalaman pribadi, hehe..biar ga tercoreng nih pencitraan..wkwkwk.
Sebaliknya dengan suami. Ketika anak bermasalah, belum apa apa langsung menyalahkan istri. Padahal belum tentu salah suami, eh..maksudnya belum tentu salah istri. harusnya sebagai orang dewasa ya introspeksi diri donk...Suami kan pemimpin rumah tangga.

Contoh respon ini bisa jadi adalah pengalaman masa kanak kanak yang terekam dalam otak kita. Ketika pulang terlambat, kita dimarahi orangtua. Saat dapat nilai jelek, kita disalahkan orang tua. Atau orang tua menyalahkan orang lain, sehingga kita belajar untuk menimpakan kesalahan pada oranglain sebelum introspeksi diri.

Sebagian orang tidak menyadari kehadiran kanak kanak yang terluka dalam dirinya. Si anak kecil yang marah, butuh perlindungan, kasih sayang, perhatian, menetap dalam tubuh Orang dewasa. Sosok anak kecil itu terus saja mencari kebutuhan akan cinta dan rasa aman melalui berbagai cara. Maka jika ada orang dewasa atau lansia yang sikapnya seperti kanak kanak, pastilah ada kanak kanak yang terluka di dalam dirinya. Ada kebutuhan dasar di masa kecilnya yang belum terpenuhi.

pada kasus kasus tertentu, anak kecil yang terluka ini bisa merongrong hidup si badan dewasa hingga selalu memilih respon yang salah dalam berperilaku. akhirnya orang lain malas berurusan dengan orang ini karena selalu mau menang sendiri-egosentris, khas anak anak.

Karena itulah, urusan masa kecil ini harus diselesaikan.
Caranya? Ya pertama pastinya sadar dulu. Kalau tidak sadar bahwa respon kita sering salah, ya selamanya akan merasa benar.
Coba cari feedback dari orang orang terdekat, wajarkah respon kita dalam situasi tertentu. Banyak refleksi, renungkan respon yang kita pilih. Adakah rasa menyesal, atau komentar “iyaya.kenapa gue begitu ya..kan harusnya gak gitu..”

Kedua, kalau sudah sadar cari ilmu! Gimana ya respon.yang tepat? Ooh jadi kalo anak tantRum, aku ga perlu tantrum juga, tapi caranya gini ya..(sambil baca buku abah ihsan ceritanya,,hehe).

Ketiga, cari role model. Manusia butuh contoh. Bisa lihat praktek di seminar PSPA misalnya (ampun dehPromosi terus padahal saya Gak dibayar sama abah, haha).Tapi yang lebih nempel lihat contoh dari keseharian orang baik di lingkungan kita. Jadi lebih natural dan familiar.Dalam kasus saya, saya belajar banyak dari yayang tercinta, Edwin Nofsan Naufal Sampe kadang mikir..ni orang hatinya terbuat dari apa yak..kok (hampir) ga pernah marah?? Eits kembang kempis deh tu idungnya, hekekek.

Keempat, latihan. Practice makes perfect, no doubt. Terus melatih diri untuk mengaplikasikan niat baik dan pengetahuan kita.

Kelima, tentu saja dukungan dari orang orang terdekat. Bagi istri, ya dari suami sendiri, masak iya dari suami orang, dan sebaliknya. Dukungan ini penting walaupun Bukan segalanya. jangan sampai berkilah, 'mana bisa saya berubah, wong suami saya saja masih begitu terus!’nahh kalo masih ngomong begini berarti anak kecilnya tuh yang muncul, heuhee.

keenam, undang si anak kecil dan selesaikan masalahnya. Seems too abstract to do, tapi ada caranya. Salah sekiannya saya pelajari di workshop healing innerchild within pekan lalu. Two days journey to find a whole package Of me, itu tagline di otak saya setelah ikut workshopnya. Salah satu momen terbaik dalam hidup saya. Bertemu yunda kecil yang lagi nangis ketakutan (gausah diceritain kenapanye yee biar penasaran, wakakak).

Ketujuh, laa haula walaa quwwata illa billlah. Percayakan pada Allah. Selalu mencari hikmah dan minta bimbinganNya. Pasti.
Segitu dulu ya, semoga bermanfaat sharingnya. SelaMat membijaksana dalam menuanya usia :)

#special thanks to behind-the-scenes team yang bikin saya bisa tenang ninggalin trio bidadari lebih dari 20 jam, jazakumullahkhairankatsir.hanya Allah yang maha mengetahui dan mampu membalas

Ide Rencana Kegiatan Play date



1. Kreasi Kaos Motif Celup, Boneka tangan, dan prakarya dari flanel
Analisis Pasar : Anak-anak suka membuat karya yang bisa dipakai untuk kegiatan sehari-hari
Rancangan Event :
Bentuk PJ dan Tim
PJ Acara
PJ Konsumsi
Timeline
Minggu 1 : Promosi dan pendaftaran
Minggu 2 : Belanja alat dan bahan
Minggu 3 : Pelaksanaan Kegiatan
Tema dan Jenis Kegiatan : Kreativitas Bernilai Manfaat, membuat prakarya secara mandiri
Target Usia : 5 – 12 tahun.
Anggaran Dana dan HTM
Target Peserta 10 anak
Biaya alat dan bahan: Rp. 300.000
HTM ; Rp.50.000/anak
Rundown Acara
10.00 – 10.15  Perkenalan, ice breaking, membuat kesepakatan acara
10.15 – 10.45 Pembuatan motif celup
10.45-11.15    Pembuatan kreasi flanel
11.15 Operasi semut, foto karya, penutupan
Waktu dan tempat
Taman Baca dan Main Anak Tidore, 3 Januari 2019
Promosi melalu e-flyer, IG, Fb dan wa
Ide lain yang belum dibuat detailnya:
- Permainan Tradisional (bekel, karet, taplak gunung) dan masak-masak (roti bakar, bola biskuit cokelat, rujak)
- Berkunjung ke industri roti rumahan
- Berkunjung ke bank sampah dan membuat prakarya dari bahan daur ulang
- Berkunjung ke skywalk TMII