berbagi inspirasi : Ibu Profesional
Showing posts with label Ibu Profesional. Show all posts
Showing posts with label Ibu Profesional. Show all posts

Thursday, 5 July 2018

Tantangan Hari ke-3 Cerdas Finansial


Hari Kamis lalu kami mampir ke Toko Buku Gramedia Bintaro. Tidak direncanakan sebelumnya  karena niat awal ikut kajian di Masjid Ash Shaf. Baru sampai depan masjid, sekuriti menginfokan kajian libur karena ustadz berhalangan hadir.

Kami akhirnya jalan (kaki) sore ke gramedia. Memang mama saya ingin mencari hadiah ultah Si Tengah.

Sebelum sampai ke gramedia, saya membriefing Si Bungsu dan Si Sulung. Si Tengah tidak ikut karena memilih bersama sepupunya di rumah. Saya membriefing bahwa saya tidak bawa uang banyak, jadi hanya lihat lihat saja di sana.

Sesampainya di gramedia, ternyata banyak godaan. Melihat Si Sulung sibuk melihat seolah akan membeli, saya mengingatkan tentang briefing tadi. Ia pun paham namun tetap melihat lihat ke sana kemari.

Akhirnya saya yang luluh karena Si Sulung bilang belum beli kado ultah adiknya dan ingin membelikan dengan uangnya sendiri. Ia berjanji akan mengganti uang saya karena ia tidak membawa uang.

Saya setuju dengan syarat barangnya seharga di bawah 50ribu rupiah saja. Setelah waktunya membayar, ternyata ia memilihkan mainan lilin seharga 20ribu.

Itulah pengalaman kami hari ini. Walaupun akhirnya jadi ada pengeluaran tak terduga, saya tetap senang dengan inisiatif Si Sulung membelikan hadiah dengan uangnya sendiri.

Bersikap konsisten tidak harus menghilangkan fleksibilitas kita sebagai ortu. Dalam kasus hari ini, saya merasa harus lebih menghargai inisiatif Si Sulung meski jadi keluar dari kesepakatan briefing sebelumnya. Sebab saya menghargai argumentasi dan niat baik Si Sulung untuk adiknya.


#bunsay_iip
#cerdas_finansial
#tantangan 10 hari

Thursday, 8 March 2018

Tantangan Hari ke-2 Menstimulus Anak Gemar Membaca

bacaan si tengah, ditulis oleh si sulung

Hari kedua ini, duo kakak bersemangat sekali melaporkan hasil bacaan mereka. Bahkan si sulung yang menuliskan buku bacaan adik-adiknya di pohon literasi.

bacaan si bungsu



Sementara buku bacaan si sulung saya yang menuliskannya. Si sulung membaca buku Album Foto Misterius, sebuah buku mini novel anak-anak. Ia juga dapat menceritakan isi buku tersebut dengan singkat.

Saya sendiri masih skimming buku Fitrah Based Education hal 189-198. Sepertinya memang sudah pernah saya baca detail, jadi saya skimming saja poin poin pentingnya. Ternyata memang butuh usaha lebih untuk konsisten membaca dengan penuh konsentrasi. Apalagi jika sedang ada beberapa deadline.

Sementara untuk suami, masih menjadi tantangan untuk membaca buku. Beliau belum mulai menjalankan tantangan ini, tapi kalau baca berita di internet atau medsos sih pasti, rajin :D


Tuesday, 2 January 2018

Aliran Rasa Melatih Kemandirian Anak

Aliran Rasa Melatih Kemandirian Anak

Bulan Desember hawa liburan begitu kuat menusuk :D
Membuat saya lumayan kendor dalam menerapkan latihan kemandirian.

Alhamdulillah keterampilan yang ditargetkan untuk anak masih ada yang tercapai, meskipun lebih banyak yang belum tercapai #tetapsemangat.
Ada beberapa hal yang saya catat sebagai pelajaran:

# mengajarkan skill pada anak akan jauh lebih mudah dengan memecah skill tersebut menjadi tahapan kecil-pendek. Misalnya yang saya alami saat mengajarkan skill istinja mandiri pada si tengah.

 Mulai dari tahap membuka celana sendiri, proses istinja sampai berakhir dengan memakai kembali celana. Untuk tiap tahapan ada waktu dan tentu saja stok sabar yang harus disiapkan.

# untuk memberi instruksi pada anak, dibutuhkan kemampuan komunikasi produktif yang terus diasah. Di saat instruksi ortu kurang jelas, terlalu panjang, atau dibarengi dengan kemarahan, anak bukan hanya gagal paham, tapi juga jadi luka hati. Hiks, maafin Ibu yaa Nak.

# mengobservasi dan mencatat perkembangan anak dalam latihan kemandirian, membuat saya mengerti proses yang harus dilewati. Fokus latihan jadi lebih terarah, efektif dan efisien.

# konsistensi akan diuji manakala berada di luar rumah. Saat berkunjung ke berbagai tempat saya lebih sering turun tangan. Alhamdulillah selama di rumah bisa tetap konsisten meskipun belum mulus prosesnya.

Sekali dua Nafsa masih menguji dengan minta diceboki. Bahkan pernah dia berkata, “Bu aku kelas 1 SD aja ya cebok sendirinya..”, dengan muka memelas. Kasihan sih,tapi saya tetap usaha supaya ia melakukannya dengan senang hati. Apresiasi, dukungan, dan pendampingan mutlak diperlukan agar keterampilan terbentuk.

Begitulah. Pada akhirnya sebagai orangtua, memang stok kesabaran dan konsisten yang masih mengungguli keterampilan apapun untuk dimiliki. Tak ketinggalan, kekompakan orangtua dengan semua yang terlibat dalam pengasuhan harus sejalan. Semoga tiga bidadari kelak menjadi anak mandiri :)

Sunday, 17 December 2017

Tantangan hari 10 Melatih Kemandirian


Kemarin hari terakhir liburan kami di Jogja. Sekaligus hari terakhir tantangan kemandirian Nafsa.

Kemarin Nafsa minta BAB saat kami sedang sarapan di hotel. Karena ayahnya yang sudah selesai sarapan, jadi Nafsa minta tolong temani ke toilet boleh ayahnya.
Saya lupa sekali untuk berpesan pada suami tentang latihan istinja mandiri Nafsa.

Saya baru bertanya sore harinya pada si tengah. Ia menjawab jujur bahwa istinja dibantu ayah. Saya mengatakan bahwa lain kali terutama jika di rumah Nafsa tetap harus mencoba melakukan istinja nya sendiri. Ia mengangguk. Saya berharap bisa terus mendampingi Nafsa berlatih kemandirian. Berlanjut pada perilaku lainnya dan dilakukan ajeg dimanapun berada.

#Melatih Kemandirian
#kuliah bunsay
#level2
#Tantangan 10hari

Thursday, 14 December 2017

Tantangan hari 9 Melatih Kemandirian

Tantangan hari 9 Melatih Kemandirian

Di hari kesembilan ini Nafsa sudah melakukan istinja sendiri tanpa meminta bantuan saya.
Saat itu saya memang sedang mengurusi adiknya.

Tiba tiba Nafsa mengatakan ingin BAB. Saya lalu mengingatkan bahwa Nafsa pasti bisa hari ini istinja sendiri.

Saya pun memberi Nafsa kesempatan untuk sepenuhnya berada di toilet mengurus keperluannya sendiri. Setelah 8 hari sebelumnya selalu saya tentir.

Maka meskipun saat itu saya bisa saja berhenti sejenak dari si bungsu dan kembali mendampingi si tengah, saya memutuskn untuk tidak melakukannya. Saya memilih menjajal hasil latihan Nafsa.

Alhamdulillah lega rasanya ketika keluar dari kamar mandi Nafsa berbinar binar. Katanya ia sudah istinja sendiri.

Saya pun mengapresiasinya lalu mengkonfirmasi ulang apa yang dia maksud dengan istinja mandirinya. Ternyata persepsi kami sama, ia sudah mampu membasuh dan menyiram hingga bersih bagian duburnya. Semoga kemandirian ini menetap dan menular pada perilaku lainnya. Aamiin.

#level2
#kuliahbunsay
#Melatih Kemandirian

Monday, 11 December 2017

Tantangan hari 8 Melatih Kemandirian

Tantangan hari 8 Melatih Kemandirian

Kali ini Nafsa BAB saat saya sedang sibuk menyuapi adiknya.

Ia masuk ke toilet diiringi suara motivasi saya tentang tahapan istinja mandiri yang belum dikuasainya.

Saya ingatkan dia untuk menyiram air lebih dulu baru membasuh dubur. Setelah itu cuci tangan sebersih bersihnya.

Saya membiarkan Nafsa sendirian di toilet. Sebab si bungsu sedang lahap lahapnya makan.

Beberapa saat kemudian Nafsa keluar toilet. Saya segera bertanya, "Nafsa sudah istinja?"

Matanya berbinar, bibirnya tersenyum lebar, "sudah bu!" Jawabnya.

Saya kembali bertanya untuk memastikan, "bisa siram dan basuhnya?"

"Kan gantian kayak kata ibu. Aku siram duluan"

"Oh gitu, wah hebat kakak. Tangannya sudah dicuci bersih?".

Ia mengangguk sambil menyodorkan dua telapak tangannya untuk saya cium. Biasa saya lakukan untuk mengecek apakah anak anak sudah pakai sabun.

Saya mencium bau sabun tapi samar. Saya mengapresiasi usaha Nafsa sambil menyuruh cuci tangan sekali lagi supaya lebih harum dan bersih. Ia pun menurut tanpa keluhan.

Lega rasanya. Semoga keterampilan baru inibuka bisa menetap menjadi kebiasaannya. Aamiin.

#kuliah Bunsay
#Melatih Kemandirian
#Tantangan hari 8
#level2






Tantangan hari 7 Melatih Kemandirian

Tantangan hari 7 Melatih Kemandirian

Alhamdulillah hari ini Nafsa bisa belajar istinja lagi.

Awalnya dia minta tolong ayahnya karena saya sedang sholat, rakaat terakhir.

Si kakak kemudian mengingatkan bahwa Nafsa sedang belajar istinja mandiri, tidak boleh minta dibantu ayah.

Selesai sholat saya segera menghampiri Nafsa.  Kembali mententirnya bagian menyiram sambil membasuh.

Memang masih jadi tantangan untuk Nafsa. Setidaknya, semua tahapan lain mulai dari membuka celana hingga memakai kembali sudah ia lakukan sendiri.

Saya mengingatkan kembali untuk mencoba alternatif menyiram dulu baru membasuh.  Sepertinya dia sudah mengerti hanya belum mantap untuk mencoba karena belum terbiasa. Tetap semangat Nafsa :)

#kuliah Bunsay IIP
#Melatih Kemandirian
#Tantangan Hari 7
#level2

Saturday, 9 December 2017

Tantangan hari 6 Melatih Kemandirian

Tantangan hari 6 Melatih Kemandirian

Akhirnya pagi ini Nafsa bisa latihan istinja betulan alias BAB beneran.
Saya masih mententirnya bagian basuh sambil siram dubur.

 Awalnya ia menolak melakukan sendiri, mengajukan opsi saya yang menyiram.
Namun saya tipe emak yang tega kalau sedang melatih anak mandiri. Apalagi untuk sesuatu yang sudah sesuai tahap perkembangannya.


Jadi saya bilang pada Nafsa bahwa ia bisa melakukannya sendiri, setidaknya coba dulu.
Nafsa mencoba dan masih kesulitan. Baiklah, saya kembali memegang tangan kanannya sambil menggerakkan tangan itu menciduk air dan menyiram.

Selebihnya untuk cuci tangan dan pakai celana sudah lancar dilakukan sendiri.
Baiklah, tahap menyiram sambil membasuh ini masih jadi tantangan yang harus ditaklukkan. Semangat :)

Friday, 8 December 2017

Tantangan 5 hari Melatih Kemandirian

Tantangan hari 5 Melatih Kemandirian

Hari ini Nafsa belum BAB lagi. Tetapi menjelang ia mandi, saya dapat ide. Hmm bagaimana kalau saat mandi saja saya ajari dia istinja? Jadi tidak perlu menunggu ia BAB betulan. Rasanya geli geli kocak memikirkan ada emak emak yang sangat menunggu nunggu anak BAB, hehe.

Maka saat Nafsa selesai sabunan, saya pun mengajaknya berlatih istinja. Nafsa manut daan segera saya apresiasi.

Saya mengingatkan latihan sebelumnya bahwa kita tinggal belajar membasuh sambil menyiram dubur. Nafsa mengambil seciduk air di gayung dengan tangan kanan. Kemudian membasuh duburnya dengan tangan kiri.

Ia sudah bisa, hanya masih sulit menyiramkan air karena terbiasa melakukan dengan tangan kiri.

Saya memberinya semangat sambil berkata bahwa ia sudah bisa menyiram dengan baik. Saya menyarankan agar Nafsa mengambil air lebih sedikit agar gayung tidak terlalu berat sehingga mudah menyiram.

Selain itu saya juga memberi tips lain yaitu jika menyiram dan membasuh sekaligus masih terasa sulit, ia dapat menyiram lebih dulu baru membasuh. Jadi keduanya dilakukan bergantian.
Begitulah kisah hari ini. Semoga Nafsa makin mandiri dalam istinja.

#kuliah Bunsay
#Melatih Kemandirian
#level2

Tuesday, 5 December 2017

Tantangan hari 3 Melatih Kemandirian Anak

Tantangan hari 3 Melatih Kemandirian Anak

Hari ini kali ketiga Nafsa saya latih istinja sendiri. Ketika ia berkata ingin BAB, saya kembali mengingatkan untuk berlatih istinja mandiri.

Karena kemarin PRnya adalah menyiram dubur sekaligus membasuh sendiri, maka hari ini pun tugas tersebut yang saya dampingi dan latihkan.

Saya memberi instruksi sambil mengamati dari pintu kamar mandi. Awalnya saya pikir ia akan kesulitan menyiram sambil membasuh karena ukuran gayung yang terlalu besar untuk genggaman tangannya.

Karena itu saya sediakan gayung kecil untuk Nafsa. Lantas saya amati kembali.
Saya lihat ia bisa melakukan keduanya bersamaan, menyiram sambil membasuh dubur.

Tapi ketika saya amati lebih jelas, ternyata karena kidal, Nafsa membasuh dubur dengan tangan kanan, sementara tangan kiri memegang gayung untuk menyiram.
Saya lalu mengingatkan bahwa istinja dilakukan dengan tangan kiri.

Memang selama ini saya sudah sering melatihnya makan dengan tangan kanan. Saya jelaskan bahwa itu contoh dari Rasulullah dan yang mengikuti beliau akan bertemu dengannya di surga. Namun saya belum jelaskan bahwa istinja dilakukan dengan tangan kiri.

Setelah saya minta ganti tangan, Nafsa terlihat kesulitan tapi tetap berusaha.
Belum selesai proses istinja, si bungsu merengek minta keluar kamar. Saya pun meninggalkan Nafsa dengan berpesan untuk mencui tangan yang bersih.

Tak lama kemudian, Nafsa menyusul saya keluar kamar. saya bertanya apakah ia sudahmencuci tangan. Dengan mantap dan lantang ia menjawab sudah. Lalu saya mengulang pertanyaan untuk meyakinkan. Dengan ekspresi sedikit geregetan ia berkata, “udah Bu, Ibu kan tadi gak lihat!”’

Baiklah..PR saya berikutnya, memastikan Nafsa konsisten menggunakan tangan kiri untuk membasuh dan tangan kanan untuk menyiram duburnya.
Semoga makin lancar :)

Sunday, 3 December 2017

Tantangan hari 2 Melatih Kemandirian Anak

Tantangan 10 Hari Latihan Kemandirian

Hari Ahad ini adalah hari kedua latihan kami.

Hari ini Nafsa BAB ketika sedang menyusui si bungsu. Tepat sekali dengan awal tujuan mengapa saya memilih skill istinja untuk dilatihkan: beberapa kali saya tidak bisa standby untuk istinja Nafsa karena sedang menyusui.

Akhirnya saya minta bantuan si sulung menjadi asisten. Sebelumnya ia sudah dibriefing tentang latihan kemandirian si tengah.

Saya baru ingat, belum menurunkan tempat sabun agar bisa dijangkau Nafsa. Jadi saya minta si sulung mengambilkan sabun dan mengawasi adiknya istinja.

Dari kasur saya mendengarkan episode latihan itu. Saya dengar si kakak memberikan instruksi pada Nafsa.

Si kakak melaporkan bahwa Nafsa masih belum bisa membasuh sambil menyiram duburnya. Selebihnya Alhamdulillah lancar. Saya berterima kasih pada keduanya karena mau saling menolong.

Sore Hari Nafsa BAB Lagi. Giliran saya kembali melatih langsung. Saya segera membuat tempat sabun dadakan agar  Nafsa bisa mengambil sabun sendiri.
Ketika ia hendak istinja, saya perlihatkan tempat sabun yang baru untuknya.

 Ia lantas membasuh tangan dengan sabun lalu dengan panduan saya mulai membersihkan duburnya. Seperti sebelumnya, meminta saya menyiramkan air sambil ia istinja.

Sambil menyiram, saya beri Nafsa petunjuk untuk melakukan sendiri esok hari. Saya katakan, tangan membersihkan, tangan kanan menyiram dengan gayung.

Proses istinja selesai, saya ajari ia mencuci tangan dengan benar. Saya amati dan pandu untuk membersihkan tangan dengan sabun sampai ke sela jari lalu memastikan bekas sabun sudah hilang.

Begitulah. Tugas saya hari berikutnya berarti memastikan Nafsa bisa menyiram sendiri saat istinja.
Bersambung :)

#KuliahBunsayIIP
#Melatih Kemandirian
#Level2
#Tantangan 10 hari

Tantangan hari 1 Melatih Kemandirian Anak

Tantangan Kemandirian 10 Hari

Jumat lalu kelas Bunda Sayang kembali bertemu. Kali ini kami berkumpul di Sanggar Kemuning Mbak Ventri di bilangan Kampung Sawah.

Alhamdulillah pertemuan berlangsung hangat meski di akhir acara kami sempat pindah dari kebun ke selasar karena hujan angin ringan.

Setelah mereview materi 1 dan menutupnya dengan aliran rasa masing-masing, Mbak Nani memimpin diskusi tentang materi 2 yaitu Melatih Kemandirian Anak. Kami diminta mengucapkan 1 kata yang terpikir ketika mendengar kata mandiri. Kami juga berdiskusi mengapa harus melatih kemandirian anak.

Kesimpulannya, kami sepakat bahwa melatih kemandirian anak sangat penting. Sebagai orangtua kami tidak akan hidup selamanya untuk melayani anak. Sebagai individu, anak perlu kemandirian sebagai keterampilan untuk survive dalam hidup.

Kami lalu diminta untuk menuliskan pengalaman proses melatih kemandirian anak yang sudah tercapai sejauh ini.

Tulisan dirinci menjadi tugas, usia, dan bagaimana cara melatih kemandirian tugas tersebut.
Tulisan kami dikumpulkan di papan tulis lantas kami diberikan waktu untuk membaca seluruh pengalaman tersebut. Kami diharapkan dapat mencari inspirasi untuk tantangan 10 hari berikutnya.

Kali ini tantangan 10 harinya adalah melatih kemandirian anak. Cara mengerjakannya, kami harus memilih 1 anak dan 1 skill kemandirian yang akan dilatihkan. Tantangan dilakukan 1 bulan ini, tiap skill dapat dilatih selama 1 pekan. Jadi total ada 4 skill yang dilatih selama 1 bulan.
Untuk tantangan 10 hari berarti kami akan melaporkan 2 skill.

Malam harinya, saya berdiskusi dengan si sulung dan si tengah. Saya tanya menurut mereka mandiri itu apa dan pentingnya apa untuk mereka.
Awalnya si tengah tak paham, tapi setelah si sulung menjawab, ia dapat menjawab benar dengan bahasanya sendiri.

Kata si sulung, mandiri itu mampu mengerjakan semua sendiri, penting karena ibu tidak mungkin bantu semuanya terus menerus. Si tengah berkata mandiri itu gak dibantu ibu, penting karena kita udah gede.

Saya pun mengapresiasi jawaban mereka sambil mengkonfirmasi bahwa mandiri artinya mengerjakan sendiri apa yang sudah bisa dilakukan. Penting karena usia mereka sudah besar, tidak bisa bergantung terus pada ibu. Saya tambahkan pula pertanyaan mereka lebih senang bisa sendiri atau dibantu terus? Alhamdulillah mereka menjawab lebih suka bisa sendiri.

Saya beritahu targetnya bahwa pekan ini untuk kakak saya akan melatih kemandirian membereskan mainan. Sementara si tengah kemandirian untuk istinja (cebok usai BAB) sendiri.

Dalam tantangan kali ini saya memilih melaporkan perkembangan si tengah.
Hari Sabtu lalu adalah hari pertama latihan kami. Ketika si tengah mulai mau BAB, biasanya ia minta bukakan celana.

 Nah, kali itu saya kembali jelaskan hari ini kita mulai latihan, jadi Nafsa buka celana sendiri.
Ia pun menurut dan mulai buka celana sendiri.

Ketika mau instinja, saya lupa sabun masih dalam posisi tinggi tidak terjangkau oleh Nafsa. Saya pun mengambilkannya. Lalu mulai proses istinja sambil mententir Nafsa.

“Gini ya Kak besok kalau mulai mau cebok sendiri. Ini sabunnya dibasuh dulu ke tangan. Terus tangn kiri usap bagian pantat tempat bekas BAB. Sambil diguyur pakai tangan kanan. Kalau terasa sudah bersih, cuci dua tangan pakai sabun. Bilas deh"
Saya ucapkan semua sambil melakukan proses istinja. Saya lihat ia menyimak dengan baik.

Selesai istinja saya minta ia memakai celana sendiri. Biasanya ia suka minta dipakaikan. Alhamdulillah Nafsa berhasil mengenakan celananya sendiri.

Latihan hari pertama selesai. Tugas saya berikutnya adalah meletakkan sabun pada tempat yang terjangkau oleh Nafsa.
Bersambung :)

#KuliahBunsayIIP
#Melatih Kemandirian
#Level2
#Tantangan 10 hari